Always Basmalah

by

Rate this book:
2025

About This Book

Prolog

Kota yang di juluki sebagai "Kota Bertuah" Jum'at ini diselimuti embun yang sejuk dan memberikan udara yang segar untuk dihirup. Matahari mulai menampakkan dirinya disitu pula penduduk Kota Pekanbaru memulai aktivitas nya. Berbeda dengan santri Pondok Pesantren Ma'arif yang berada tidak jauh dari pusat kota tersebut, mereka sudah terlebih dahulu membuka matanya sedari jam 3 untuk menegakkan qiyamul lail.

Hari Jumat terkesan spesial untuk santriwan dan santriwati di Pondok Pesantren Ma'arif karena dihari itu mereka bebas dari tuntutan hafalan, mereka leluasa untuk beraktivitas. Ada yang mencuci pakaiannya, ada yang melaksanakan kegiatan olahraga, dan ada juga yang membersihkan asramanya.

Tetapi berbeda dengan santriwan yang hangat di sapa Al bernama lengkap Alfarezel Amir, ia seorang pemuda yang taat kepada Tuhannya. Sejak sepertiga malam dirinya sudah berada di Masjid Al-kiram yang berada di pondok pesantren Ma'arif tersebut.

Udara bergilir keluar masuk ke ventilasi masjid. Jamaah yang masih tersisa di dalam masjid merasakan kedamaian batin dan jiwa dikarenakan anugerah yang dikirimkan oleh tuhan yang maha esa. Al mulai mengatur napasnya mengeluarkan karbon dioksida yang harus dikeluarkan dan perlahan masuklah udara segar yang melewati rongga rongga hidungnya. Ia mencari ketenangan bukan dengan manusia tetapi mendekatkan diri kepada penciptanya agar mendapatkan ketenangan dzohir maupun batin.

Ia duduk sambil ber tafakkur di dalam masjid dengan kepalanya yang terasa terisi penuh oleh kehidupan nya. Berharap agar segala urusan nya lancar dan mulus layaknya jalan yang bagus. Terutama ujian kelulusan yang semakin dekat. Ia berharap bisa meraih hasil yang terbaik, tidak hanya untuk membanggakan orang tuanya, tapi juga untuk mendekatkan diri pada cita-citanya menjadi seorang dosen.

Tetapi bukan hanya ujian kelulusan, yang ia pikirkan lebih dari itu Masalah finansial harus ia hadapi dengan hati yang lapang tetapi pikiran menolak untuk berdamai dengan hati. Tetap saja pikiran meributkan hal-hal yang seharusnya tak perlu dipikirkan.

Beban biaya hidup di kota yang semakin membengkak membuat pikirannya tak tenang. Ayahnya sudah sekuat tenaga menghidupi keluarga. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Bagaimana jika ia menyerah dan memilih untuk berhenti mondok? Namun, cita-citanya untuk menjadi seorang dosen begitu besar. Ia terus berdoa, memohon petunjuk pada Allah, agar diberikan jalan keluar dari permasalahan ini.

Buy This Book

As an Amazon Associate and Bookshop.org affiliate, BookOrb earns from qualifying purchases.

Write a Review

Sign in to write a review.