Katalogus karya Masyhuddin Masyhuda
0 min read
Rate this book:
About This Book
PRACETAK
Menurut perhitungannya BP Statistik, Sulawesi Tengah memiliki 6 Kabupaten dan 1 Kotamadya, merupakan daerah yang kaya akan potensi budaya. Namun dalam kenyataannya, dari 12 akar budaya yang berkembang itu amatlah sulit untuk dikelola. Dan berteori "warisan leluhur", merupakan kata kunci terpenting dalam usaha untuk menggali dan mengembangkannya. Masyhuddin H. Masyhuda sendiri, dalam karyanya Palu Meniti Zaman menawarkan uraian/analisis mengenai perkembangan budaya di Sulawesi Tengah secara historis, yakni; Etnis dan Logat di Sulawesi Tengah, zaman Pra Sejarah, zaman Sejarah, zaman terjadinya Lembah Palu, zaman Kerajaan, zaman Penjajahan, Pergerakan dan zaman Kemerdekaan.
Bagian-bagian ini telah memberikan landasan moral; untuk melakukan perlawanan terhadap kaa kunci warisan leluhur. Secara gambalang, bagian-bagian ini merupakan proses inventarisasi budaya di Sulawesi Tengah dan menjadikan referensi pemicu bagi analisis kritis lainnya.
Seperti diungkapkan Prof.Drs.H.Tjatjo Thaha,MSi. dalam salah satu media cetak lokal, September 1995; "peran lembaga-lembaga kebudaaan perlu ditingkatkan lagi, misalnya merasa perlu menjual produk budaya darah ke mancanegara atau setidak-tidaknya mengajukan pada pemerintah, pahlawan daerah kita ke tingkat nasional. Tentu ada kriteria sendiri. Tapi kita orang daerah di Sulawesi Tengah ini, harus berani mengajukan bahwa ini layak dan meyakinkan pemerintah pusat. Tapi selama ini tidak ada. Bagaimana bisa ada keputusan itu, selama tidak ada keberanian".
Sesudah terpecahkan kata kunci berteori warisan leluhur di Sulawesi Tengah, timbul pertanyaan akankah berguna usaha-usaha membaca dan memahami catatan-catatan M.H.Masyhuda seperti yang sedang anda baca ini ?
Untuk menjawab pertanyaan tentang manfaat, membalik-balik halaman pada karya Masyhuddin H.Masyhuda, Palu Meniti Zaman yang ternyata sangat kaya, namun sukar dipahami dan seolah hanya kompatibel dengan kondisi sejarah ketika M.H.Masyhuda produktif (1955-1991). Kita dapat menjawabnya melalui ungkapan seorang seniman/aktor dan pimpinan sebuah lembaga kebudayaan di Jakarta, Juni 1995; "saya tak habis pikir akan kekayaan budaya yang dimiliki Sulawesi Tengah. Daerah ini memamang sangat kaya. Saya senang dialog dan begitu tertarik dengan koleksi M.H. Masyhuda, terutama bebrapa seri buka Games and Dance Central Celebes yang berbahasa Inggris dan beberapa buku lainnya yang menggunakan bahasa Belanda".
Sementara itu, agar tidak terantuk pada batu yang sama, seperti terpecahkan kata kunci berteori warisan leluhur, alias jatuh terperangkap pada pertanyaan berguna-tidaknya membaca, padahal usaha-usaha mulanya dimaksud untuk menyusun strategi, pendekatan dan sistem inventarisasi awal, sebagai usaha-usaha mulia mentransfer proses sejarah dari kebudayaan lama, menunju peradaban baru untuk memahami masa kekinian kita.
Akhirnya, catatan-catatan pada prakata ini diharapkan dapat memberikan bekal konteks analisa kritis, dalam artian dapat menjadi kawan diskusi atau referensi, bagi usaha-usaha serius memahami kebudayaan kita, maupun untuk usaha-usaha sama pada konsep-konsep praktisi budayawan lokal seperti Indra B.Wumbu, Rusdy Toana, Tjatjo Thaha, Andi Mas Ulun La Parenrengi Lamarauna, Junus Sunusi dan atau bahakan M.Dj.Abdullah.
Menurut perhitungannya BP Statistik, Sulawesi Tengah memiliki 6 Kabupaten dan 1 Kotamadya, merupakan daerah yang kaya akan potensi budaya. Namun dalam kenyataannya, dari 12 akar budaya yang berkembang itu amatlah sulit untuk dikelola. Dan berteori "warisan leluhur", merupakan kata kunci terpenting dalam usaha untuk menggali dan mengembangkannya. Masyhuddin H. Masyhuda sendiri, dalam karyanya Palu Meniti Zaman menawarkan uraian/analisis mengenai perkembangan budaya di Sulawesi Tengah secara historis, yakni; Etnis dan Logat di Sulawesi Tengah, zaman Pra Sejarah, zaman Sejarah, zaman terjadinya Lembah Palu, zaman Kerajaan, zaman Penjajahan, Pergerakan dan zaman Kemerdekaan.
Bagian-bagian ini telah memberikan landasan moral; untuk melakukan perlawanan terhadap kaa kunci warisan leluhur. Secara gambalang, bagian-bagian ini merupakan proses inventarisasi budaya di Sulawesi Tengah dan menjadikan referensi pemicu bagi analisis kritis lainnya.
Seperti diungkapkan Prof.Drs.H.Tjatjo Thaha,MSi. dalam salah satu media cetak lokal, September 1995; "peran lembaga-lembaga kebudaaan perlu ditingkatkan lagi, misalnya merasa perlu menjual produk budaya darah ke mancanegara atau setidak-tidaknya mengajukan pada pemerintah, pahlawan daerah kita ke tingkat nasional. Tentu ada kriteria sendiri. Tapi kita orang daerah di Sulawesi Tengah ini, harus berani mengajukan bahwa ini layak dan meyakinkan pemerintah pusat. Tapi selama ini tidak ada. Bagaimana bisa ada keputusan itu, selama tidak ada keberanian".
Sesudah terpecahkan kata kunci berteori warisan leluhur di Sulawesi Tengah, timbul pertanyaan akankah berguna usaha-usaha membaca dan memahami catatan-catatan M.H.Masyhuda seperti yang sedang anda baca ini ?
Untuk menjawab pertanyaan tentang manfaat, membalik-balik halaman pada karya Masyhuddin H.Masyhuda, Palu Meniti Zaman yang ternyata sangat kaya, namun sukar dipahami dan seolah hanya kompatibel dengan kondisi sejarah ketika M.H.Masyhuda produktif (1955-1991). Kita dapat menjawabnya melalui ungkapan seorang seniman/aktor dan pimpinan sebuah lembaga kebudayaan di Jakarta, Juni 1995; "saya tak habis pikir akan kekayaan budaya yang dimiliki Sulawesi Tengah. Daerah ini memamang sangat kaya. Saya senang dialog dan begitu tertarik dengan koleksi M.H. Masyhuda, terutama bebrapa seri buka Games and Dance Central Celebes yang berbahasa Inggris dan beberapa buku lainnya yang menggunakan bahasa Belanda".
Sementara itu, agar tidak terantuk pada batu yang sama, seperti terpecahkan kata kunci berteori warisan leluhur, alias jatuh terperangkap pada pertanyaan berguna-tidaknya membaca, padahal usaha-usaha mulanya dimaksud untuk menyusun strategi, pendekatan dan sistem inventarisasi awal, sebagai usaha-usaha mulia mentransfer proses sejarah dari kebudayaan lama, menunju peradaban baru untuk memahami masa kekinian kita.
Akhirnya, catatan-catatan pada prakata ini diharapkan dapat memberikan bekal konteks analisa kritis, dalam artian dapat menjadi kawan diskusi atau referensi, bagi usaha-usaha serius memahami kebudayaan kita, maupun untuk usaha-usaha sama pada konsep-konsep praktisi budayawan lokal seperti Indra B.Wumbu, Rusdy Toana, Tjatjo Thaha, Andi Mas Ulun La Parenrengi Lamarauna, Junus Sunusi dan atau bahakan M.Dj.Abdullah.
Buy This Book
As an Amazon Associate and Bookshop.org affiliate, BookOrb earns from qualifying purchases.
Write a Review
Sign in to write a review.
More by Masyhuddin Masyhuda
Adat sopan santun suku Kaili
Adat sopan santun suku Kaili
Afiks bahasa Kaili dialek Palu
Afiks bahasa Kaili dialek Palu
Arti perulangan dalam bahasa K
Arti perulangan dalam bahasa Kaili, dialek Palu
Bahasa Kaili Pamona
Bahasa Kaili Pamona
Beberapa kesimpulan dari penul
Beberapa kesimpulan dari penulisan bahasa yang dikelompokkan Toraja di Sulawesi Tengah
Busana Kaili
Busana Kaili